Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Istana Negeri Ukhuwah

Blog EntryJun 2, '10 2:15 AM
for everyone
Tulisan ini aku ikut sertakan dalam Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diadakan oleh
Mba Anaz bekerja sama dengan http://denaihati.com/

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku sedang memandang langit kelabu sore ini, seperti biasa duduk terpaku sendiri didepan jendela kamarku, emak..aku merindukanmu..” lirihku dalam hati..kemudian terlukislah wajahmu disitu..dilangit kelabu itu. Kau sedang tersenyum memandangku…
Ntah mengapa mak..setelah kita terpisah jarak nan cukup jauh (karena aku harus bekerja dikota ini)aku selalu merindukanmu..hampir setiap hari..Disela aktivitasku yang tidak terlalu padat disini,, sepulang  dari sekolah tempatku mengajar aku mengingatmu…karena biasanya kau yang selalu membukakan pintu untukku,kadang tersenyum menyambutku gembira atau memberengut karena aku mengganggu jam tidur siangmu..atau karena kau sedang melakukan sholat dzuhur sementara aku mengetuk ngetuk pintu dengan tidak sabarnya, kau biasanya akan mengomel dan aku hanya senyum-senyum saja melihat wajahmu yang merah karena kesalnya..

Ada sebuah pepatah didaerahku..jikalau dekat bau tahi, jikalau jauh bau wangi. Jikalau dekat terlihat buruknya maka perselisihan yang akan terjadi, jikalau jauh..akan selalu merindu dan selalu ingin bertemu, begitulahkira-kira arti pepatah itu, Bukan tidak pernah aku berselisih denganmu, Apalagi dulu ketika keluarga kita masih lengkap, waktu itu posisimu adalah saudara perempuanku satu-satunya. Kita selalu berselisih dalam hal pekerjaan, Aku ingat sekali, kita dulu diberikan satu kamar oleh Abah dan ibu, dan akulah yang bertugas membereskan kamar. Aku selalu lalai dengan tugasku itu..(Aku selalu menganggap kaulah yang harus selalu mengingatkanku untuk tugas itu, dan mengandalkanmu untuk menggantikannya kalo aku terburu-buru pergi kesekolah. Ternyata anggapanku salah, ketika aku melalaikan tugas itu kau akan berteriak “Abaaaaaaaaah, lia gak ngerjain tugasnya!! . Seketika mulutku maju lima senti dan segera masuk kamar untuk merapihkannya sambil menggerutu didalam hati. Dan kau tersenyum penuh kemenangan

Sewaktu kecil dulu aku sangat iri padamu, terang saja..hanya kita berdua putri Abah dan hanya kau yang beroleh wajah rupawan, cantik dan menwan..(menurut ku), tapi bukan hanya menurutku, teman-temanku pun bilang kalau kau lebih cantik dariku. Kau punya mata yang indah, alis yang tebal bak semut beriring,kulit putih dan postur tubuh yang pass. Kau pasti ingat, dulu kita sering duduk didepan cermin bersama, seraya berkaca, memandangi wajah kita masing masing, sambil mengomentari bagian bagian wajah yang menurut kita berbentuk ideal, Kau bilang dagu ku bak lebah bergantung, aku tau kau hanya menghiburku. “kau punya wajah yang manis, “hitam manis” katamu. “Tapi aku tidak secantikmu kataku..sambil memberengut. Kau hanya tersenyum dan mengelus kepalaku.

Usia kita terpaut jauh, kurang lebih 12 tahun. Kau anak ke 3 dan aku anak kelima,Ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar,tepatnya kelas 1 SD. KAu yang menyemangatiku untuk berpuasa penuh di bulan Ramadhan, dengan imbalan beroleh hadiah darimu. Dan dihari terakhir bulan Ramadhan tahun itu, kau menepati janjimu, kau memberiku sebuah mukenah..dan seketika aku menghambur kepelukanmu seraya mengucapkan terimakasih.
Kau tahu, Abah selalu membanggakanmu didepan ku, uhh betapa menyebalkannya, Oleh karena itu aku mengecapmu sebagai “anak kesayangan abah”. Bukan hanya beroleh wajah cantik, kau pun punya otak yang encer dan cemerlang. Disaat kau duduk dibangku SMP kau selau beroleh juara umum di SMP Favorit itu. Itulah yang selalu abah bangga banaggakan padaku, mungkin sudah beratus kali bahkan aku sudah hafal. Tapi sekarang ku maklumi, mengapa abah begitu menyayangimu. Sebelum ada aku..kau putri satu satunya, dan kau lebih dulu memperlihatkan semua hebatmu, dan jikalau posisi kita bertukar mungkin aku yang akan selalu dibangga banggakan abah..bukankah begitu??

Dulu kita tidak pernah mengira akan ditinggalkan oleh ibu, begitu cepatnya..Ibu kita yang begitu semangat menyokong abah dan kita semua. Ibu kita yang begitu giat mencari rupiah demi rupiah untuk kesejahteraan kita dengan berjualan kacang telur, Harus pergi meninggalkan kita. Kau ingat, saat itu aku duduk di kelas 6 SD. Dan kau baru 2 bulan saja memakai toga dan jubah hitam itu dengan meraih gelar sarjana. Kau tak henti-hentinya menangis selama seminggu setelah kepulangan ibu. Aku begitu khawatir dengan keadaanmu, “Bukankah kau masih punya aku”lirihku. “Kita harus kuat dan bertahan, hidup kita tidak hanya sampai disini, mungkin akan banyak ujian lain menanti kita”.begitu kata seorang tetangga dikala itu.
Aku sangat lega melihat kondisimu, beberapa minggu berikutnya..Kau tidak lagi larut dalam kesedihan, kau pun senantiasa menyemangatiku yang dalam hitungan hari akan mengahadapi Evalusi Belajar Tahap Akhir (EBTANAS) SD. Berkat dorongan dan do’amu aku bisa melewati ujian itu dengan nilai yang Alhamdulillah dan bisa masuk ke SMP favourit. Dan ketika Hari perpisahan sekolah, kau mengantarkanku, menggantikan peran ibu sebagai wali muridku. Aku melihatmu di sudut sana, sedang menghapus air matamu ketika aku naik keatas panggung dan menerima peringkat ke 5 NEM tertinggi di sekolahku. Kau terlihat bangga padaku, dirumah pun tangismu tak kunjung usai, ntah karena bahaagia atau sedihmu.

Setahun setelah kau maeraih gelar sarjanamu..kau menikah. Keputusan yang sebelumnya tak menjadi pilihanmu. Kau begitu bersemangat bersekolah lagi untuk meraih gelar magister. Tapi bukan kah kau sudah berusaha!! Dan takdir membawamu untuk menggenapkan setengah dienmu. Aku bahagia campur bersedih..aku merasa akan kehilangan dirimu..Aku masih terlalu kecil untuk mengurus abah dan rumah ini. Aku belum sanggup,aku masih lalai dalam bekerja.  Aku tak yakin apakah aku akan baik-baik saja jika tidak bersamamu.

Aku lega akhirnya kau memutuskan tinggal bersama kami terlebih dahulu dalam tempo 2 tahun. Aku sangat senang sekali mendengarnya. Aku tak bisa bayangkan kalau setelah menikah kau langsung memutuskan untuk pindah, merananya aku. Di usia yang baru beranjak remaja tak ada temanku berbagi cerita tentang kisah kisahku. Setelah ibu tiada..aku sudah menganggappmu sabagai ibu.. kaulah tempat mencurahkan semua cerita dan keluh yang ada..

Hampir dua tahun kemudian kau dikaruniakan seorang anak, sayangmu tak pernah pudar padaku. Tak pernah kau beda-bedakan aku dengan si kecil buah hatimu itu..tak pernah aku merasa cemburu olehnya karena adilnya sayangmu. Semenjak itu kau mulai mengajariku banyak hal tentang kemandirian, mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Kau mulai mengajariku mengerjakan semua pekerjaan rumah sedikit demi sedikit, walau kadang aku sedikit memberengut jikalau kau menyuruh ini itu. Tapi aku tak pernah tahan mendengar ceramahmu yang panjang lebar. Langsung saja aku kabuuurrr dan mengerjakan apa yang kau perintahkan..dan biasanya kau hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

Kau selalu menjadi penengah jikalau aku dan abah berselisih. Jikalau aku punya salah dan abah marah padaku, aku selalu menangis (hah cengengnya aku) dan kaulah yang selalu membujukku. Kau pun selalu jadi perantara jikalau aku meminta dibelikan sesuatu oleh abah atau meminta ijin untuk sesuatu hal. Abah selalu luluh dengan kata-katamu..itu yang tidak pernah bisa kutiru darimu.

Mak…mengingat tentang kebersamaan kita memang tidak pernah ada habisnya. Apalagi setelah abah tiada. Banyak hal-hal sulit yang harus kita hadapi bersama, ketika itu.. hari hari yang sulit bagimu. 2 minggu sebelum kelahiran putramu yang ketiga, tanpa ada tanda-tanda apapun Abah menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu itu hari pertama aku pergi berangkat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pukul 20.30 aku dijemput dilokasi KKN, Jarak dari rumah ketempat lokasi KKN itu sekitar 1 jam. Dalam perjalanan menuju rumah, kau menelponku, suaramu terlihat tenang..” Sudah sampai dimana dek?”kau tak menangis mak, tak ada getar disuaramu..”Ikhlaskan.., teteh tunggu dirumah ya..”tangisku pun terhenti. “Begitu tabahnya engkau”bisikku dalam hati.

Dua minggu setelah itu kau mengabarkan bahwa sudah ada tanda tanda kau akan melahirkan. Tentu saja aku begitu mengkhawatirkanmu mak.., aku tak dapat menemanimu karena masih dilokasi KKN. Apalagi suamimu juga sedang berada dikota lain karena tugas belajarnya.. Setelah kau mengabarkan  hal itu, aku menangis sejadinya..aku takut sekali mak..takut jikalau terjadi apa apa denganmu,, teman-temanku kebingungan menghadapi aku. Akhirnya jum’at pagi aku diijinkan pulang kerumah oleh teman-teman anggota kelompok KKN ku. Ketika sampai dirumah…kulihat putramu sudah lahir dengan sehat dan selamat..alhamdulillaah.. aku berucap penuh syukur.

Bulan-bulan berikutnya kita lewati bersama dirumah, aku, kau dan ketiga putramu yang masih kecil-kecil. Kita harus menghadapi semua masalah yang biasanya memerlukan abah, menjadi wanita perkasa aku menyebutnya. Membetulkan mesin air yang rusak, membersihkan selokan belakang, menambal bak yang bocor , dan masalah-masalah lain yang biasanya selalu dikerjakan abah. Kita juga menghadapi kekeringan sumur yang membuat kita minta air ke tetangga kanan kiri, mengangkut air setiap hari…aku lupa itu terjadi berapa lama..tapi aku bersyukur bisa melewatinya bersamamu dengan rasa syukur, dengan banyak hal yang kita bisa ambil pelajaran, belajar merasakan kesusahan orang lain. “Bersyukur kita punya tetangga yang baik, yang mau berbagi airnya untuk kita,”aku tersenyum mendengar kata-katamu,menambah berkali-kalil lipat semangatku mengangkat air. 

Aku merasa punya keluarga baru, dengan posisi menjadi anak pertama, menjadi kakak bagi keempat putramu. Kau pun beranggapan beggitu, fasilitas sebagai anak pertama kau beri padaku,
Mak.. bagaimana harus kubalas semua baik mu..untuk kasih sayangmu dan semuanya..
Apalagi sekarang aku bekerja ditempat yang jauh darimu. Mungkin ini saatnya aku untuk benar-benar mandiri, menyelesaikan masalah sendiri dan menentukan pilihan sendiri..

Bersyukurnya aku punya hari-hari indah bersamamu..
 Wajar saja kalau aku selalu merindukanmu mak..

                                    Bumi sekundang, 24 mei 2010


mayamulyadi wrote on Jun 2, '10
ikut baca :)
nisasevsis wrote on Jun 3, '10
makasih...
anazkia wrote on Jun 3, '10
Afwan ukhti, mohon cantumkan link sponsor dan penyelenggara. Syukron. Silakan perbaiki lagi...
anazkia wrote on Jun 3, '10
wehehehe.. rupanya dah ada :) afwan jiddan...
anazkia wrote on Jun 3, '10
Subhanallah....
Salam kenal untuk sang Kakak.
nisasevsis wrote on Jun 4, '10
sangking semangat baca ya mbak anaz hehehe
nisasevsis wrote on Jun 4, '10
Insya Allah nanti disampaikan mbak..Syukron atas kunjungannya..:)
nisasevsis wrote on Jun 4, '10
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.